
Terispirasi dari kisah-kisah para muallaf (orang yang masuk Islam) dengan segala kesaksiannya, ada sebuah cerita menarik yang saya baca di sebuah majalah islam Furqon edisi 125 TH XIII/April 2015, sehingga menggugah saya untuk ikut mengutip artikel tersebut dan menuliskannya dalam blog saya. Berharap sekiranya mampu menggugah keyakinan kita para muslim, untuk bisa berpikir cerdas dan tidak hanya sekedar ikut-ikutan Islam, atau sekedar Islamnya karena sejak lahir sudah Islam, atau Islamnya hanya di KTP saja. Dan barangkali semoga mampu menyentuh hati para pencari kebenaran yang hakiki, yang saat ini belum mengenal Islam. Lalu ada apa dengan Islam? Silahkan Anda simak kutipan artikel yang saya ambil dari Majalah tersebut.
ADA APA DENGAN ISLAM?
Bagi para penggemar film-film "sumuk-sumuk" berlatar belakang pantai macam Bay Watch, Laguna Beach, Beach Body Guard dan yang sejenisnya mungkin tidak asing lagi dengan nama Angela Collins. Selain kagum dengan penampilannya yang identik sensual, kelincahan dan gayanya sering menjadi pusat bidikan para photograpfer. Sebagai bintang televisi, Angela cukup populer. Tak sedikit anak gadis yang mencoba meniru atau ingin menjadi seperti dirinya.
Di sisi lain, gadis pantai California bermata biru, rambutnya pirang, dan bentuk tubuh yang nyaris sempurna ini dibesarkan dalam keluarga Katolik tradisional yang sangat taat. Setiap pekan ia pergi ke gereja bersama keluarganya, membaca dan memahami kitab sucinya, dan berdoa kepada Yesus.
Namun setelah peristiwa serangan 11 September 2001 silam hatinya mulai bimbang. Ia melihat banyak orang di negaranya benci terhadap Islam, sebaliknya mereka mengagungkan konsep ajaran gereja yang katanya penuh kasih dan kelembutan. Dirinya sering mendengar hujatan-hujatan terhadap Islam sebagai agama radikal, keras, teroris dan melahirkan orang-orang jahat dan berhati pembunuh, kejam dan suka perang, hingga muncul Islamiphobia.
"Dari sini saya mulai bertanya-tanya ada apa dengan ajaran Islam, benarkan demikian. Lalu kenapa Katolik yang katanya agamanya penuh kasih, lembut, tapi penganutnya justru sering menghujat keyakinan orang lain. Saya pun bertanya pada pendeta dan orang-orang di lingkungan gereja."
Apa jawaban mereka?
"Semua hampir sama, menghujat dan menamakan Islam itu agama kekerasan."
Anda percaya?
"Antara percaya dan tidak. Percaya karena fakta, tidak percaya karena mustahil, aneh kalau ada agama dari Tuhan sampai mengajarkan yang demikian."
Selanjutnya apa yang Anda lakukan?
"Saya berusaha terus mencari dan mencari jawaban. Bertanya kesana kemari apa yang mendasari mereka benci terhadap Islam. Mulai dari pastur, pendeta hingga tokoh-tokoh agama semua jawabannya tidak ada yang memuaskan. Ada yang mendukung memang agama yang kejam, ada justru yang saya disuruh ikut membenci, jangan dekat-dekat dengan mereka untuk menghindari cuci otak."
Anda mengikutinya
"Saya semakin penasaran, ada apa sebenarnya yang diajarkan Islam itu. Lalu saya tanya pada teman saya yang kebetulan dia seorang muslim. Bukan jawaban yang memuaskan tapi saya disuruh langsung membuka sendiri. Sejak itu saya terus mencari buku-buku ajaran Islam."
Bagaimana hasilnya
"Terkejut dan tidak percaya, karena ternyata setelah saya membaca dan mendalami sedikit, ajarannya jauh luar biasa dari kitab Injil yang selama ini menjadi peganganku."
Bagaimana luar biasanya
"Islam mengajarkan rahmatan lil alamin, agama kedamaian, berperang bukan untuk memaksa, siapa saja boleh memeluk. Apalagi setelah membaca sejarah Nabi saya semakin teretarik. Dan puncaknya saat saya mendalami konsep ketuhanan yang ada dalam Islam saya terkejut sekali."
Terkejutnya bagaimana
"Kalau di gereja konsep trinitas meyakini ada tiga tuhan. Setelah saya bandingkan dengan konsep ketuhanan yang hanya satu dan berhak disembah tidak beranak dan tidak diperanakkan saya menjadi bingung. Lalu makna trinitas itu apa, siapa yang menjadi tiga tuhan itu? Dari sini saya justru berbalik mencari jawaban antara trinitas dan keesaan Tuhan menurut Islam. Terutama mengenai mengapa Tuhan datang sebagai manusia dan membiarkan dirinya mati demi dosa-dosa umatnya."
Lalu apa sikap Anda
"Saya kemudian bertanya lagi pada pendeta, bukan jawaban yang memuaskan justru ia marah besar. Kamu sudah tercuci otaknya oleh Islam. Saya cuma senyum dan berusaha menjelaskan sekalian bertanya antara konsep trinitas dan Tuhan itu satu. Nah dari situ saya mulai sangsi dengan trinitas dann lebih ingin mendalami Tuhan itu satu."
Kenapa demikian
"Karena menurut logika saja alam sebesar ini tidak mungkin dikendalikan oleh seorang penebus dosa. Sedangkan ia sendiri harus mati di tangan Romawi bagaimana mungkin bisa mengendalikan dunia dan seisi alam semesta ini. Belum lagi memberi kehidupan kepada seluruh makhluk? Setelah saya berusaha memahami konsep ketuhanan dalam Islam saya pelan-pelan baru menyadari bahwa hanya ada satu yang menguasai, menciptakan, menghidupkan dan mematikan seluruh makhluk hidup maupun alam semesta di jagad raya ini, yaitu Tuhan yang disebutkan dalam ajaran Islam. Dari sinilah jawaban yang lebih dari memuaskan hingga memantapkan saya untuk lebih jauh mempelajari Islam. Apalagi di kitab ajaran Islam juga mengakui keberadaan Musa, Yesus (Isa-red), Ibrahim dan nabi-nabi lain sebelum nabi Muhammad dengan sejarah yang sangat mirip. Dengan modal kemantapan inilah saya tidak ragu-ragu untuk mengucapkan dua kalimat syahadat yang meresmikan diri dan jiwa saya untuk memeluk Islam dan menyembah satu Tuhan, yaitu Allah Ta'ala." *
Saat ini Angela telah menjadi seorang muslimah dan rela meninggalkan semua gaya hidup termasuk penampilannya yang dulu seronok, beralih ke hijab yang menutup semua tubuhnya hanya menyisakan muka dan kedua pergelangan tangan.
"Awalnya memang sulit, tapi karena kekuatan iman menjadikan saya seperti ini. Tak terlihat lagi gerai rambut pirangku, semua sudah kututup selamanya untuk semua orang kecuali suami. Hijab ini juga bukan sekedar sebuah aksesori keagamaan atau mode pakaian terbaru, tapi suatu perintah yang harus dilakukan dengan niat yang tulus." ungkap muslimah yang kini menjadi direktur di Islamic School. Angela mencoba untuk memberi kontribusi bagi pengembangan pendidikan Islam di Amerika Serikat.*
(sebagaimana dikutip dari Majalah Islam Furqon edisi 125 TH XIII/April 2015).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar